BANYAK SAKU BANYAK REZEKI

BANYAK SAKU BANYAK REZEKI

BANYAK SAKU BANYAK REZEKI

Oleh: Yuli Rahayu Istiawan 

Mak Lili dikenal sebagai tukang jahit keliling di kampungnya. Dengan sepeda tua dan mesin jahit portabel yang ia pasang di kotak kayu, ia berkeliling dari rumah ke rumah menawarkan jasa permak baju. Ada satu hal unik dari Mak Lili: semua baju yang ia kenakan selalu penuh saku. Baju, celana, hingga rompinya bisa punya lebih dari sepuluh saku.

Anak-anak kampung sering bertanya,
“Mak Lili, kenapa bajunya banyak saku?”
Mak Lili hanya tersenyum dan menjawab,
“Banyak saku, banyak rezeki.”

Awalnya orang mengira itu hanya lelucon. Tapi lama-kelamaan, mereka mulai paham maksudnya.

Setiap saku Mak Lili punya fungsi. Ada saku untuk benang berbagai warna, saku untuk gunting kecil, saku untuk penggaris, saku untuk jarum, bahkan saku khusus berisi permen untuk anak-anak yang ia temui. Kadang ada juga saku berisi uang receh, jika ada orang yang butuh pinjaman kecil mendadak.

Suatu hari, ketika hujan turun deras, ia melihat seorang nenek berjalan terbungkuk kehujanan. Mak Lili  mengeluarkan pisau lipat  dari sakunya dan dengan sigap memotong daun pisang untuk payung nenek yang kehujanan itu. Pada  saat yang lain,di tempat biasa ia mangkal terjadi kebakaran, saat semua orang panik, Mak Lili melihat anak kecil menangis sendirian, ia gendong anak kecil itu lalu diambillah kain basah dari sakunya untuk menutup hidung anak kecil yang hampir pingsan.

Orang-orang baru sadar, saku-saku itu bukan sekadar gaya. Itu simbol kesiapsiagaan. Ia selalu siap menolong, siap memberi, siap hadir.

Sejak itu, anak-anak mulai membuat tas kecil dengan banyak kantong. Para remaja belajar menjahit sendiri, membuat baju multifungsi. Mereka menamai gerakan itu: Gerakan Banyak Saku Banyak Rezeki.

“Rezeki bukan cuma uang,” kata Mak Lili suatu sore, duduk di bawah pohon sambil menjahit. “Rezeki itu waktu yang bisa kau bagi, tenaga yang bisa kau beri, dan senyum yang bisa kau tabur. Kalau hatimu punya banyak ‘saku’ untuk menampung niat baik, Tuhan akan isi semuanya dengan rezeki yang tak disangka-sangka.”

Kini, Mak Lili tetap menjadi tukang jahit keliling. Tapi orang orang yang banyak berinteraksi dengannya menganggapnya sebagai guru kehidupan. Bukan karena banyak hartanya, tapi karena banyak ‘saku’ di hatinya.

Ngisor Wit Gedhang, 29 Juli 2025,19.35
Ingat pangandikane Pak Satriyatmo saat saya memakai rok bersaku dua ????

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
2
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0