SUATU HARI TENTANG SARAH

SUATU HARI TENTANG SARAH

Suatu Hari Tentang Sarah

Ini adalah kali pertama kulihat Sarah tersenyum seperti itu. Setelah tidak datang hampir seminggu, ia menyapaku riang. Sarah memang riang, tetapi tidak pernah terlihat sebahagia ini. Meski wajah gadis itu dipenuhi bintik merah, kurasa karena alerginya, senyum itu tak pudar.

"Miloooo!!!! serunya seraya memelukku."

Aku tersenyum. Oh, ia pasti senang sekali sampai-sampai tak menghiraukan alerginya begitu. Ini pertama kalinya kulihat ia tersenyum begitu lebarnya. Apa gerangan yang telah terjadi padanya belakangan ini? Kudengar ia pergi ke suatu workshop yang bertempat di lereng Gunung Merapi sana. Tiga hari, pamitnya. Entah kemana ia dua hari berikutnya.

"Aku menginap di kosan Ima, Sayang", jelasnya seolah mengerti apa yang kupikirkan,apa kamu rindu padaku?

Aku ingin mengangguk antusias, namun satu-satunya ekspresi yang bisa kutunjukkan hanyalah senyuman.

"Kamu kok cuma diam terus sih, Milo", katanya, pura-pura merajuk,"ah aku mandi saja!"

Sarah berlalu ke kamar mandi kamarku. Ah... berapa lama sejak aku melihatnya tersenyum selebar itu? Setelah putus dengan pacarnya dua tahun yang lalu, ia tak pernah datang padaku dengan senyum sebahagia itu. Ia selalu datang dan bercerita mengenai kejadian-kejadian lucu yang ia alami bersama teman-temannya, namun selalu berakhir dengan pertanyaan, "Ah, siapa yang butuh lelaki. Aku punya segalanya. Ya kan, Milo?"

Sebagai teman yang telah hidup terlalu lama bersamanya, aku mengenalnya luar-dalam. Aku sangat tahu bahwa sesungguhnya ia sangat kesepian. Sering, ia bercerita mengenai mantan kekasihnya padaku dan berakhir dengan helaan nafas berat. Tak tega kadang rasanya, sampai-sampai aku ingin memeluknya. Namun itu semua mustahil. Aku memang lelaki dan sahabat terdekatnya, namun ada batas yang tak bisa kulanggar mengenai hal ini. Aku mencintainya, dan aku sangat ingin menjaganya.

"Milo!" serunya mengagetkanku, "Aku bertemu cowok. Physically, dia bukan tipeku. Tapi kamu tahu, dia pinter banget".

Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk. Yah, dia memang vulgar. Terutama di hadapanku. Ia terbiasa melakukan apapun bersamaku. Makan, menonton televisi, menonton film, tidur, dan bahkan mengganti pakaian di depanku. Awalnya aku risih, tetapi lama-kelamaan aku menjadi terbiasa dan tidak mempersoalkannya lagi.

"Jangan banyak tanya kamu", ujarnya sambil mengenakan baju yang diambilnya dari lemari di sudut kamar, "aku akan menceritakan semuanya padamu malam ini".

Yah, barangkali malam ini aku akan meradang lagi. Lagi? Ya. Ia beberapa kali bercerita mengenai lelaki yang ia taksir, namun pada akhirnya mengecewakannya. Aku tahu ini terlihat jahat, tetapi aku merasa senang bahwa ia tak jadi berhubungan dengan para lelaki itu. Jujur, aku takut ia akan melupakanku dan mengabaikanku ketika ada sosok lain mengisi hari-harinya. Seperti dulu, saat ia bersama mantan pacarnya.

"Namanya Mas Eto", ujarnya membuka cerita setelah makan malam, "kamu tahu, tampilannya lusuh sekali, gondrong, berewokan. Entah kenapa aku seperti menemukan sesuatu dalam dirinya yang sangat menarik bagiku.”

“Kamu bilang dia pintar?”

Ah... barangkali memang benar ya, kepandaian itu lebih menarik daripada hanya sekedar body, katanya sembari menerawang dan menggaruk wajahnya yang berbintik merah,dan kamu tahu, tampilannya oldies dan klasik. Oh Milo, kamu mengerti kan maksudku? Lelaki gondrong, pintar, dan selera klasik. Bukankah itu sempurna?

“Jangan digaruk terus, nanti wajahmu lecet.”

"Milo, alergiku kumat", keluhnya, "di sana dingin sekali. Kenapa ya, padahal aku rutin memakai krimku. Lagian rumahku kan di gunung juga, suhu di sana tidak sedingin di rumahku".

Aku tersenyum menatapnya. Oh, Sarah, tahukah kamu jika wajah mengeluhmu itu imut sekali? Aku sangat menyukaimu!

***

Selama beberapa hari, ia terlihat riang. Ima datang beberapa kali bersamanya dan mereka berdua dengan bersemangat mengobrolkan lelaki yang mereka taksir. Sarah bercerita mengenai obrolannya dengan Eto dengan antusiasme tinggi.

"Aku justru jarang menghubungi Razi", kata Ima, "Razi yang menghubungiku duluan, semenjak insiden nasi goreng itu.

"Oh ya?" balas Sarah, "Kebalikannya, aku yang selalu menghubungi Mas Eto duluan. Yah, kalau berharap dia yang menghubungiku duluan namanya pungguk merindukan bulan dong?" Hihihi.

"Tapi menurutku tidak apa-apa", sahut Ima, "jaman sekarang semuanya butuh effort lebih kalau mau mendapatkan yang kita inginkan. Termasuk lelaki, kita harus proaktif kalau mau dia tahu perasaan kita".

Sarah mengangguk-angguk, "Tampilannya sangar memang, tapi orangnya lucu sekali. Aku suka".

Ima tertawa, "Tertawa pun sambil menutup mulutnya, tampang preman tapi dalamnya Hello Kitty".

Dan mereka berdua tertawa, lagi. Berbicara ke sana-kemari tanpa henti. Sekali-kali aku ikut tertawa menimpali bercandaan mereka. Dua gadis ini jika berkumpul memang selalu sukses asyik sendiri.

Namun lama-kelamaan nama Eto semakin jarang terdengar. Sarah semakin jarang membahasnya bersamaku. Selain ia menjadi semakin sibuk dengan skripsinya, kini justru ada lelaki baru yang mendekatinya. Tampan, namanya Hendra. Sarah bilang, ia lebih muda darinya. Ia bilang lelaki itu lucu dan supel, tipe lelaki yang disukainya.

Kemudian seperti yang bisa ditebak, mereka pun berpacaran. Ada yang tak kusuka dari lelaki itu. Mulutnya sangat tajam ketika berbicara, sekalipun pada kekasihnya. Kulihat Sarah sering menangis diam-diam menghadap dinding, tak mengijinkan siapapun melihatnya. Sakit hatiku dibuatnya. Ah, andai saja aku bisa memeluk dan menenangkannya. Andai batas ini tak pernah ada!

"Milo", katanya padaku suatu hari, "apa aku salah memilih ya? Kenapa hidupku jadi begini? Ima, Citra, maupun Aini tidak menyukai Hendra. Aku memahami posisi mereka sebagai teman yang tak ingin melihatku bersedih terus-menerus, tapi aku ingin merubah Hendra. Aku ingin merubah pandangannya menjadi lebih luas, aku ingin ia tidak lagi meremehkan perempuan, aku tidak ingin ia terlalu cepat menghakimi. Apa aku salah, Milo?"

“Tapi kalau kamu harus menderita seperti itu, kamu seharusnya berhenti, Sayang.”

Sarah memelukku sambil menangis. Oh, aku sangat ingin menenangkannya dengan kata-kata, tapi aku tak bisa. Betapa pedih hanya bisa diam melihatnya bersedih.

"Aku putus dengan Hendra, Milo", ujarnya beberapa hari kemudian, "Citra benar, Hendra hanya ingin memanfaatkanku. Aku minta kami bertemu seminggu sekali di tempat makan, ia tak mau. Ia hanya ingin bertemu di kos untuk menghemat uangnya. Kamu tahu, Milo, betapa aku jengkel padanya. Aku tak minta ia bayari aku makan, aku tak ingin merepotkannya. Kamu tahu ia bilang apa? Ia tak bersedia membayar sendiri-sendiri makanan kami. Ia mau aku yang membayarkan semuanya".

“Najis.”

"Betapa kekanak-kanakannya persoalan kami, Milo. Aku tidak ingin lagi mendengar apapun tentangnya. Sakit hatiku, tambahnya,betapa harga hubungan kami sama dengan harga makanan yang kami makan. Aku tidak mau lagi mengalaminya, aku tidak mau lagi berpacaran dengan lelaki manapun kecuali ia benar-benar serius mengajakku menikah".

Aku tersenyum senang. Baguslah, kini tidak ada seorang lelaki pun yang akan membuat Sarah bersedih lagi.

***

Sarah begitu gembira menyambut hari kelulusannya. Berlari ke sana-kemari menyiapkan segala perlengkapan wisudanya, ia seolah tak pernah kehabisan tenaga. Termasuk saat ini, senja hari menjelang pukul enam. Ia telah mandi, dan kini tengah berdandan. Aku sangat menyukai saat-saat Sarah sedang berdandan. Ia bisa membentuk ekspresi yang lucu-lucu, bibirnya dimonyongkan, dahinya ia kerutkan, dan bahkan menggembungkan pipinya. Aku sungguh menyukainya.

"Aku mau pergi rapat, Milo", katanya saat aku menatapnya, "nanti ketemu Mas Eto. Hihihi".

"Hati-hati, ya".

"Sepertinya aku pulang malam", terangnya, "kami akan mengobrolkan banyak hal, Milo. Ini soal kelanjutan workshop kemarin. Semoga semua berjalan asyik yah, atau aku akan mengantuk sebelum selesai".

Lewat tengah malam, Sarah datang sembari tersenyum-senyum.

"Ah, Milo", katanya, "aku senang sekali bertemu Mas Eto. Entah kenapa aku jadi mulai memperhatikannya lagi. Lama tidak bertemu membuatku agak lupa akan sosok dirinya yang menyenangkan. Malam ini aku kembali ingat mengapa dulu aku jatuh cinta padanya".

Aku terdiam. Diam dengan hati yang berkecamuk ketika Sarah menyandarkan tubuhnya padaku dan tertidur. Ah, aku sangat sadar bagaimana posisiku. Aku tidak berharap Sarah akan membalas cintaku dengan perasaan yang sama. Aku sudah cukup bahagia memandangnya dari sini, sudut yang tidak ia sadari, dan untuk selalu ada bersamanyalah tujuanku.

Selama beberapa hari Sarah terlihat ceria. Tampaknya hubungannya dengan Eto berjalan lancar. Bahkan beberapa hari yang lalu kudengar Razi mengomporinya dengan rencana akan membantunya mendapatkan hati Eto. Sarah tersenyum menanggapinya, membuat sebuah puisi berisi curahan hatinya dan mempostingnya di internet. Kemudian malam itu, kulihat lagi ia menangis pedih.

"Milo, kenapa lelaki selalu begitu?" isaknya, "Ia memberikanku harapan kemudian menghempaskannya. Kenapa, Milo? Apa salahku, jika aku jadi berharap ketika ia merayuku dalam bicaranya? Ia tanyakan padaku apakah aku mau mengisi hatinya, tapi kenapa sekarang ia begini? Apa salahku, Milo?"

"Ada apa, Sarah?"

"Dan sekarang, ketika aku menyatakan perasaanku padanya, ia bilang sudah punya kekasih. Bagaimana, Milo? Kenapa waktu itu ia berkata seperti itu padaku? Ia bilang waktu itu pikirannya sedang kosong. Apa aku terlihat seperti perempuan pengisi waktu kosong orang lain, Milo?" tambahnya.

Sarah tersedu dalam pelukanku malam itu. Ah, ada apa dengan para lelaki itu? Mengapa mereka menyia-nyiakan Sarahku yang bahkan tak hendak menyerahkan hatinya padaku? Mengapa tak bersyukur saja dan menjaga hati gadis ini?

"Aku berjanji, Milo, aku akan berhenti mencari orang lain. Aku tidak akan berhubungan lagi sebelum lelaki itu membuktikan keseriusannya padaku," kata Sarah disela tangisnya.

***

Sejak malam itu, Sarah berhenti bercerita mengenai lelaki. Ia membangun lagi keceriaan hidupnya. Ia semakin jarang berada di dekatku, namun semakin sering keluar bersama teman-teman perempuannya. Ah, aku senang saja selama Sarah bahagia.

"Kamu tahu, Milo," kata Sarah tiba-tiba di suatu senja, "Mas Eto belakangan ini sering mengirimiku pesan, mengajakku mengobrol dan berdiskusi. Bahkan ia sempat memberikan komentar pada statusku dengan bertanya, Kamu bersedia kucinta?. Apa maksudnya kira-kira, Milo? Apa dia cuma basa-basi saja?"

"Jangan percaya!"

Ah, ia kan tahu kalau sebenarnya aku menyukainya. Meninggalkan pesan seperti itu hanya akan mengaduk-aduk perasaanku saja. Sungguh, aku benci basa-basi, ujarnya seraya bertopang dagu.

Belum sempat aku berpikir untuk menanggapi Sarah, pintu kamar terbuka tiba-tiba. Sosok-sosok yang beberapa kali mampir ke kamar ini itu menghambur masuk. Seorang anak perempuan kecil berkucir dua berlari ke arah Sarah.

"Mbak Sarah!" pekiknya seraya memeluk sarah.

"Loh, kok tiba-tiba Om sama Bulik ke sini? Dalam rangka apa?" tanya Sarah bingung.

Lelaki yang dipanggil Om oleh Sarah pun menjawab, "Ah, mampir saja sebentar. Bulikmu ada acara di dekat sini. Kami tidak lama kok."

Kemudian mereka berbincang seru beberapa saat. Anak kecil berkucir dua itu beberapa kali memandangiku lama. Aku sangat tahu bahwa ia menginginkanku. Hingga pada akhirnya mereka pamit, anak kecil itu berlari ke arahku dan memelukku. Ia membawaku mendekati Sarah serta ayah-ibunya.

"Loh, mau dibawa ke mana, La, boneka Mbak?" tanya Sarah heran.

"Bonekanya buat Lala ya, Mbak? balas anak kecil itu,Ya? Ya?"

Sarah tersenyum dan mengelus sayang kepala anak kecil itu,  "Iya, ambil saja. Tapi dijaga baik-baik ya. Milo itu boneka kesayangan Mbak loh, jangan dirusakin ya?"

Lala memekik senang seraya memelukku erat,  "Janji!"

Apa? Semudah itu Sarah melepasku? Dan... ini artinya aku takkan bisa bertemu Sarah lagi? Aku takkan bisa menjaganya lagi? Tidak! Ini tidak boleh terjadi!

Namun apalah dayaku. Aku tak bisa meronta, pun tak bisa menyuarakan isi hatiku. Yang tersisa dari diriku adalah senyum lebar permanen di wajahku. Aku hanya bisa menangis dalam diam ketika sosok Sarah yang melambai di depan gerbang kosnya semakin mengecil dan pada akhirnya hilang.

Jogja, 011015

Shinta

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0