JALAN BATU
Kadangkala kita sadar bahwa seseorang bermakna ketika telah tiada.

JALAN BATU
Oleh: Nadia
Rikas, lurah muda desa itu, heran bukan kepalang. Ia tak mengerti mengapa Mbah Karto begitu getol mempertahankan jalan dari susunan batu ketimbang menggantinya dengan aspal. Padahal jalan-jalan di desa lain lebih ramai sejak berganti aspal. Dan mempertahankan jalan batu sungguh tidak mendukung visinya sebagai lurah yang ingin membawa kemajuan di desa kecil di lereng Sindoro itu. Namun sekuat apapun ia berdebat, tetap tak mampu menggoyahkan Mbah Karto si kaur pembangunan. Dan begitulah Mbah Karto, raksabumi desa yang tegas dan begitu disegani namun teramat lembut pada tanah. Rikas merasa gagal sebagai lurah bahkan sejak musyawarah perdananya.
Dua hari berselang, Mbah Karto jatuh sakit dan wafat selepas shalat shubuh di ranjangnya. Berita duka ini mengagetkan seluruh warga termasuk sang lurah muda. Meski hati Rikas merasakan kehilangan, namun otaknya berkata mungkin inilah saatnya ia membawa perubahan. Sudah tiada lagi lawan berdebat perkara jalan. Keputusan murni ada di tangannya. Segera ia datang ke rumah Mbah Karto dan mengikuti proses pemakaman sampai usai. Selepas memakamkan, Rikas tak langsung pulang. Semadyanya lurah, ia menemani keluarga dan menemui tamu yang datang melayat sampai malam hari. Dan hari itu, hati Rikas dibuat bergejolak luar biasa bagai meluncur di jalan batu.
Semua orang yang mengenal Mbah Karto paham betul tentang keuletan dan kecintaannya pada tanah dan jalan batu. Banyak yang tak setuju tentang itu seperti halnya Rikas, namun ternyata banyak yang menyimpan kekaguman namun rapi menyimpan. Di hari kematian saat semua cinta bebas tercurah sejujur-jujurnya, kisahkisah yang terpendam mulai bermunculan. Rikas menyimak dengan khidmat satu per satu.
Pak Dahlan yang tinggal di desa sebelah bercerita, rumahnya baru saja kebanjiran. Jalan aspal yang dibangun sekedar aspal tanpa memikirkan drainase. Saluran lama masih ada, namun debit air yang mengalir di jalan entah mengapa berlipat kali banyaknya. Otak Rikas si sarjana teknik spontan berpikir, jalan batu itu berpori, bercelah, maka air tetap dapat meresap masuk. Tak heran saat diganti aspal, debitnya bertambah karena tidak ada air yang meresap lagi. Namun hal-hal seperti ini bisa diatasi kalau drainasenya luas. Oke, tuntas.
Pak Darmadi gantian bercerita, semenjak jalan di desanya diganti aspal, sering terjadi kecelakaan. Aspal yang halus, menurutnya tak cocok di lereng gunung. Terlebih bagi para petani yang baru pulang dari sawah yang berlumpur. Seringkali Mbah Muh terpeleset saat berjalan karena kaki rentanya yang kadang gemetar, juga Lik Bawon dengan motor bututnya yang ban depannya amat mulus bak pipi bayi. Mengganti ban tidaklah murah, di masa sulit seperti sekarang perlu setengah kuintal tomat atau setidaknya sekarung gabah. Rikas merasa iba, tanpa disadari ia mengangguk pelan seakan-akan setuju dengan Pak Darmadi. Sesaat ia tersadar dan buru-buru menggelengkan kepala. Tak boleh mengalah karena alasan seperti itu, pikirnya.
Lain lagi cerita Hanafi, ia mengeluhkan jalan aspal di depan gapura desanya yang rusak berlubang.
“Sudah lapor ke Pak RT katanya mau diatasi Pak Lurah, kata Pak Lurah nunggu pinjaman roller dari Dinas. Tapi gak datang-datang. Ditanya lagi katanya nunggu anggaran. Waduh, gak selesai-selesai.” Ia melanjutkan dengan bernostalgia saat jalannya masih batu.
“Dulu, tiap rusak sedikit, Mbah Muh inisiatif cari batu di kali, dibetulkan sendiri sore-sore. Kalau lebih dua meter rusaknya, kerja bakti satu RT gak sampai dua jam selesai. Bonus makan-makan pula. Duh kangennya. Sekarang kalaupun mau kerja bakti, aspalnya gak tau bisa ngecer dimana.”
Rikas terdiam dan kali ini sungguhan membenarkan. Masuk akal baginya, dua alasan. Perawatan dan perbaikan jalan batu lebih mudah karena materialnya banyak didapat disini. Di sisi lain, menunggu bantuan pemerintah untuk perbaikan terkadang membuat masyarakat semakin bergantung, tidak mandiri, luntur gotong-royongnya, dan lama-lama terlalu sibuk menuntut bukan lagi menyelesaikan masalah. Rikas termenung. Mbah Karto seperti sedang mengajaknya berdebat lewat cerita-cerita orang, tapi ia tak dapat membalas dan bertanya lagi. Kini dialog itu hanya ada di dalam pikiran Rikas, yang sedikit demi sedikit terpaksa mulai memahami alasan Mbah Karto.
Selepas ashar menunggu waktu tahlilan, Rikas duduk di ruang tamu mendekati Pak Andang, anak ragil Mbah Karto, yang sejak tadi membuka-membaca catatan bapaknya. Pak Andang menggeser catatan di tangannya, berusaha berbagi pada Rikas yang tampak penasaran. Di halaman yang dibuka Pak Andang tertulis
“Dianugerahi akal, tak sepantasnya manusia rakus dan enggan berbagi pangan dan udara.”
Rikas bertanya maksud tulisan itu pada Pak Andang. Seumur hidupnya, ia tak pernah melihat sapi atau bebek mati karena kekurangan oksigen, tak pernah pula melihat ikan di kolam mati karena tidak diberi makan. Pak Andang perlahan membuka halaman selanjutnya berisi gambar berbagai jenis alga, fungi, mikroba, dan siklus biogeokimia tanah. Rikas terkejut, Pak Andang mulai menjelaskan sejauh pemahamannya,
“Selain manusia, tumbuhan dan hewan juga makan dan bernafas kan, Mas? Terkadang kita terlalu fokus pada hal-hal yang bisa dilihat mata saja, mengabaikan bahwa dalam segenggam tanah bisa saja hidup ribuan makhluk kecil yang tak mampu kita lihat.”
Rikas tidak menyangka, seorang pamong tua yang selama ini ia anggap kuno ternyata mempelajari hal-hal yang tak pernah ia perhatikan. Lurah muda itu bagai ditampar, merasa bodoh. Berusaha mengaitkan dengan cerita Pak Dahlan tadi siang, rupanya celah dalam jalan batu bukan hanya berfungsi menyerap air, namun memberi ruang bernafas bagi tanah dan ekosistemnya.
Semua orang tengah bersiap dengan buku tahlilnya saat Ginanjar, seorang pemuda di desa itu membaca berita mengejutkan dari status whatsapp temannya.
“Innalillahi, si Badrun baru saja kecelakaan motor di depan gapura desa sebelah.Karena ngebut katanya, gak lihat ada lubang. Sudah dibawa ke Rumah Sakit, patah tulang tangan kanan.”
Sontak semua orang di ruangan itu berkomentar, ada yang menunjukkan iba, kekhawatiran, ada yang mengaitkan dengan cerita Hanafi tadi siang, dan ada pula yang terdengar menyalahkan. Namun komentar Pak Dullah yang paling membekas di hati Rikas.
"Anak jaman sekarang susah kalau hanya dikandani pakai lisan, kadang harus dipikirkan cara agar lingkungan yang memaksanya berhati-hati. Seperti yang Mbah Karto lakukan selama ini, menjaga keselamatan kita semua dengan jalan batu. Biar kalau naik motor alon, alon, alon."
Rikas kembali tersadar akan satu hal baru, bahwa selama ini Mbah Karto bukan menjaga jalan batu untuk dirinya sendiri maupun tanah, melainkan sedang menjaga anak-cucunya, seluruh warga, termasuk dirinya, si lurah yang masih bocah.
Mas Handoyo supir angkot lintas desa menyela, “Tapi pelangganku selalu protes tiap angkotku tak lewatkan jalur sini, makan waktu. Ya bener selamat, tapilama. Jalannya gronjal-gronjal pula.”
Pak Dullah menjawab dengan mantap sambil tersenyum “Suwe yo ora popo, kan awakmu jadi bisa sambil menyapa warga di kanan-kiri to, Han? Lain kali pelangganmu dikandani, sudah sepantasnya kalau lewat tengah desa ya harus santun.”
Semua orang di ruangan itu tampak setuju. Dari obrolan sehari itu, Rikas membawa pulang rasa bersalah yang mendalam pada Mbah Karto. Jalan batu mengajarkan arti berbeda dari kemajuan. Bahwa yang mahal dari desa bukanlah kemudahan dan kenyamanan, namun keberlanjutan ekologis, kemampuan merespon iklim, kesesuaian fungsi dengan kebutuhan, serta hal-hal yang lebih dari itu, keramahtamahan, gotong royong, kepedulian, rasa cinta sesama makhluk, dan seperti yang Mbah Karto baru saja lakukan, mengajari tanpa menggurui. Sejenak angin berhembus, menggugah kerinduan pada hari-harinya bersama Mbah Karto yang penuh penyangkalan pada yang kini ia kasihi, jalan batu.
What's Your Reaction?






