FENOMENA VIRAL DAN KLARIFIKASI DI ERA DIGITAL
Bijak menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi yang baik, dapat membangun masyarakat yang lebih etis dan berintegritas dalam menjaga komunikasi dan interaksi pada ruang yang lebih luas.

FENOMENA VIRAL DAN KLARIFIKASI DI ERA DIGITAL
Oleh : ka_panca
Dewasa ini era digital telah membawa perubahan besar dalam cara kita bersosialisasi, berkomunikasi serta berinteraksi melalui media sosial. Namun, dibalik kemudahan kecepatan informasi yang masuk silih berganti, kita juga menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan yakni “segala sesuatu harus viral terlebih dahulu kemudian datang klarifikasi” dalam arti jika kita tidak bijak menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi yang baik justru ini akan menjadi bumerang bagi beberapa pihak tertentu, baik diri sendiri atau orang lain yang dirugikan dari kemajuan akselerasi komunikasi digital tersebut.
Hal ini menandakan bahwa etika dan perilaku kita telah tergantung pada penilaian dari orang lain. Kita lebih peduli dengan cara pandang berpikir orang lain daripada mengikuti hati nurani dan prinsip-prinsip yang kita yakini. Memang benar, salah satu dari peran media sosial telah mengubah cara kita menerima dan bereaksi terhadap suatu berita. Namun, kita harus menyadari bahwa etika dan perilaku yang baik tidak dapat dibangun berdasarkan penilaian orang lain. Kita harus kembali kepada apa yang kita yakini dan bergerak sesuai hati nurani. Dengan demikian, kita dapat membangun masyarakat yang lebih etis dan berintegritas dalam menjaga komunikasi dan interaksi pada ruang yang lebih luas.
Dalam kasus ini, yang sering kita temui adalah ketika sebuah berita mencuat ke permukaan, baik itu benar, setengah benar, atau bahkan keliru, reaksi publik sering kali lebih cepat naik daripada harus mengikuti perkembangannya terlebih dahulu. Warga net dengan mudah menyebarkan informasi tanpa mencari tahu kebenarannya, sehinggu isu tersebut semakin melebar dan tak jarang berujung pada kesalahpahaman. Barulah kemudian, ketika berhadapan dengan situasi yang sudah ramai diperbincangkan, muncul sebuah klarifikasi dari pihak yang bersangkutan, baik dalam bentuk pernyataan resmi, video penjelasan atau bahkan permintaan maaf.
Fenomena ini bukan hanya terjadi pada setiap individu, tetapi tokoh publik, selebriti, perusahaan bahkan lembaga pemerintahan. Terlebih, pada banyak kasus sebuah klarifikasi seakan sudah biasa menjadi langkah pamungkas, seakan bahwa viralitas menjadi pemicu utama bagi seorang atau sebuah entitas untuk berbicara, bukan menjadikannya kebutuhan akan kebenaran sebagai bentuk awal menciptakan batasan bijak sebuah keputusan.
Tentu, dampak dari pola ini bisa beragam. Pada satu sisi, hal ini membuktikan betapa kuatnya peran media sosial dalam membentuk opini publik. Namun, di sisi lain, hal ini juga menunjukkan lemahnya budaya klarifikasi sebelum berbagi informasi. Karena, pada beberapa kasus, klarifikasi yang datang belakangan sering kali tidak dapat sepenuhnya membendung dampak negatif dari informasi yang sudah terlanjur menyebar menjadi konsumsi publik.
Maka, sebagai masyarakat digital era sekarang, kita harus lebih bijak dan kritis dalam menyikapi berita yang beredar. Jangan mudah terprovokasi, apalagi dengan turut menyebarkan informasi tanpa memastikan kebenarannya. Sudah waktunya kita berbenah dengan pola pikir yang bijak sesuai dengan keyakinan hati nurani kita. Jika tidak kita hanya akan terus menjadi bagian dari siklus negatif yang berulang karena ketidaktahuan kita. (ka_)
What's Your Reaction?






