SERUT LANDUNG

Serutlandung, kesaktiannya sulit diukur. Sang pemegang cemeti Astabrata, aji-aji tanpa tanding, lecutannya lebih keras dari halilintar bahkan mampu membelah bumi sedalam palung di lautan. Namun Serutlandung adalah sosok yang rendah hati dan pendiam, itu mengapa sulit mengukur kemampuannya.

SERUT LANDUNG

SERUT LANDUNG

Oleh : Mbah Atmo Kulonkali

Serut Landung tidak menyangka akan menghadapi konflik nurani yang pelik seperti ini. Dadanya bergolak, jantungnya berdegup sedikit labih keras dari biasanya. Sesungguhnya yang mengusik ketentraman hatinya adalah dunia olah kanuragan yang sudah tidak melingkup pada pranatanya. Jiwa matang Serut Landung yang dipenuhi dengan ajian - ajian mandraguna justru semakin membuat kecemasannya menjadi - jadi. Olah kanuragan yang selama ini dipelajarinya menjadikan nalarnya setajam bilah kulit bambu. Pengembaraannya mengenal dunia luas, membuat dirinya berbudi bijak. Terlebih ketika aji Cemeti Astabrata yang sakti digenggamnya, menjadikan setiap lawan gentar, dan kawanpun segan.

Kecemasannya ialah Wira Cantrika, sang penguasa olah kanuragan tanpa ilmu yang mumpuni. Hmm.. sungguh sulit dinalar.! Bagaimana mungkin? Seorang tanpa ilmu yang memadai menjadi penguasa olah kanuragan. Rumit memang.

Kerumitan itulah yang selalu menggundahkan sebagian besar para pemilik ajian mandraguna. Wira Cantrika ibarat wayang kulit, berdiri tegak karena ada gapet dan kedigdayaannya terletak pada bagaimana dalang memainkannya. Adalah Kates Bungkik sang guru Teluh sebagai gapet tegaknya Wira Cantrika. Memang sebelumnya Wira Cantrika pernah berguru kepada Kates Bungkik. Sesungguhnya tidak seorangpun tahu seberapa banyak ilmu yang diserap oleh Wira Cantrika dari gurunya, Kates Bungkik. Selain nampak dari raut muka yang menandakan tidak berilmu, Wira Cantrika dengan jelas melanggar pantangan-pantangan yang seharusnya dihindari dalam penguasaan Ilmu Teluh. Kates Bungkik tahu persis perilaku Wira Cantrika itu, tapi bukan masalah seberapa banyak ilmu yang diwariskan, bukan masalah seberapa taat murid kepada guru, akan tetapi Kates Bungkik memiliki kepentingan sendiri sehingga dengan senang hati menjadi warangka Wira Cantrika.

Tidak mudah memang mengusik atau bahkan menggeser kuasa Wira Cantrika. Karena Kates Bungkik bukan satu - satunya orang yang berada dibalik kuasa olah kanuragan Wira Cantrika di wilayah Wananirjati.

Sengon Putih ialah pemilik harta raja brana yang sulit tertandingi kekayaannya di wilayah Wananirjati. Seluruh hartanya dipertaruhkan untuk kuasa Wira Cantrika. Sengon Putih memiliki apapun di dunia ini, kecuali beberapa hal, selain tidak memiliki keturunan, pada dirinya tidak mengalir darah biru sementara keinginan berkuasa sungguh besar sekali. Maka diwujudkanlah ambisinya itu melalui Wira Cantrika, yang tidak lain adalah anak angkatnya.
Serut Landung pun menghela nafas panjang, tangan dikepalkan, bunyi gemeretak ruas jejarinya terdengar jelas. Seiring degup jantungnya yang seolah mengejar dirinya untuk cancut taliwanda.

"Tidak.!!" batin Serut Landung seolah menepis detak jantungnya sendiri. Bukan Sengon Putih ataupun Kates Bungkik yang dia takuti, apalagi Wira Cantrika. Dengan aji- aji Cemeti Astabrata di tangannya semua itu dapat diatasi dengan mudah. Namun Serut Landung bukanlah manusia adigang adigung adiguna, Serut Landung bukanlah orang yang ingin dikenal sebagai pemicu ontran ontran. Semakin bergemuruh bergolak dadanya ketika mengingat bagaimana Wira Cantrika memintanya untuk menjadi salah satu gapetnya. Seketika Serut Landung terdiam, menerawang segala kemungkinan, dimatanya Wira Cantrika bukanlah manusia yang berbudi baik, dan bukan orang yang mumpuni.

Wira Cantrika dengan tatapan tajam dan meremehkan menunggu jawaban Serut Landung.
"Bagaimana, Serut?!" kata Wira Cantrika.
Serut Landung terhenyak. Bagi Serut Landung suara itu terdengar bukan sebuah pertanyaan, tapi lebih kepada sebuah paksaan. Serut Landung menggeser sedikit kaki kanan kebelakang, waspada dari segala kemungkinan. Tapi tetap menjaga jangan sampai ketegangan ini memicu pertengkaran dan lebih buruk lagi berujung perkelahian. Sedikit dari ujung matanya, Serut Landung melihat Wira Cantrika menatap tajam tapi kosong. Jelas, ini bukanlah tata nalar yang dimiliki oleh Wira Cantrika. Serut Landung maklum tentang hal itu, tapi yang sedang berkecamuk dalam dirinya adalah siapa dibalik itu semua, dan apa yang disembunyikan dibalik tawaran ini.(mo)

Bersambung....

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0