Anak Buruh di Tengah Birokrasi

Kisah tentang ketulusan, perjuangan dan pengabdian seorang anak buruh yang menjemput takdirnya di dunia birokrasi

Anak Buruh di Tengah Birokrasi

Oleh: ka panca

Di sebuah kabupaten yang cukup tropis, di kaki Gunung Kamulyan, dua puluh tahun silam, hiduplah seorang laki-laki dari keluarga sederhana. Hidupnya tak berlimpah harta, namun hangat dengan kasih dan peluh kedua orang tua. Ia tumbuh dalam kebahagiaan yang sederhana, tetapi utuh. Setiap hari, ia berproses layaknya anak-anak sebayanya, bermain di halaman yang becek selepas hujan, bersekolah dengan baju seragam yang mulai memudar, mengaji menjelang senja, lalu menikmati nasi hangat dan lauk sederhana di rumah. Sesekali, keluarganya mengajaknya keluar sekedar berjalan-jalan ke rumah makan atau tempat rekreasi, agar ia tak mudah 'gumun (dalam ungkapan jawa) atau tak heran melihat dunia baru yang lebih luas disekitarnya.

Kedua orang tuanya mendidik dengan ketegasan dan kelembutan. Mereka mengajarkan arti kemandirian dan tanggung jawab. Kebahagiaan, kata mereka, tidak datang dari kemudahan, melainkan dari kerja keras, kejujuran serta doa-doa yang senantiasa terpanjatkan. Nilai itu yang melekat kuat dalam dirinya, menjadi pondasi di setiap langkah yang ia tapaki hingga hari ini.

Sejak kecil, ia tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang abdi negara. Dunia pemerintahan terasa jauh dari kehidupannya, seolah hanya milik segelintir orang yang punya garis keturunan terhormat. Namun, jalan hidup membawanya ke arah yang tidak pernah ia bayangkan. Saat kuliah, program magang menjadi keharusan yang tak terbantahkan. Ia harus menjalani dengan pilihan masuk di sebuah instansi pemerintah, sebuah dunia yang asing baginya. Dari situlah perjalanannya dimulai.

Awalnya, ia merasa canggung, bahkan sedikit gugup. Tapi hari demi hari, rasa kagum dan percaya akan lingkungan serta kemampuan dirinya sendiri membuatnya tegar. Ia mulai mengenal dunia birokrasi. Ia melihat kerja yang penuh dengan tanggung jawab. Ia belajar bahwa di balik meja kerja birokrasi yang kaku, ada ruang luas untuk berbuat baik bagi banyak orang. Ia mulai memahami makna pengabdian. Bukan karena jabatan, melainkan karena kesempatan untuk memberi keberamanfaatan.

Perlahan, ia mulai dikenal. Bukan karena koneksi keluarga, bukan pula karena pengaruh orang dalam, melainkan karena ketekunan dan kepeduliannya dalam kegiatan sosial di kampus dan daerah. Dari sana, beberapa pejabat mulai mengenalnya. Ia dikenal bukan sebagai anak sesiapa, tapi sebagai sosok yang bisa diandalkan dan dipercaya.

Namun, perjalanan itu tidak selalu mudah. Dunia pemerintahan penuh dinamika dan ujian. Ia pernah diremehkan, dianggap tak punya latar belakang yang cukup kuat. Ia pernah merasa kecil, seolah berada di ruang besar yang bukan miliknya. Tapi dari setiap kerikil itu, ia belajar berdiri lebih tegak, semua pengalaman itu menjadikannya lebih matang. Ia belajar kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Ia belajar kapan harus bertindak dan kapan harus menunggu.

Kini, ia telah menjadi Aparatur Sipil Negara melalui sebuah tes dengan formasi umum, ia berhasil meraihnya. Statusnya masih PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), tetapi ia bersyukur, Karena di setiap tahap yang ia lalui, tak ada tangan yang menuntunnya kecuali kerja keras dan doa kedua orang tua. Ia berdiri tegak di atas kaki sendiri.

Kadang ia tersenyum saat lelah datang. Ia teringat gurauan lamanya,

“Kalau di dunia sihir pada sebuah seri film, aku ini muggle (manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan sihir) yang nyasar di dunia sihir.”

Ia sadar, tidak ada tongkat ajaib yang membantu dalam perjuangan hidupnya. Yang ada hanya keyakinan, kesabaran, dan langkah-langkah kecil yang terus maju, bahkan saat tak ada yang menyaksikan.

Singkatnya di sisi lain, hidupnya kini telah lebih lengkap. Ia telah menikah dengan seorang perempuan yang benar-benar sabar, sederhana, mandiri, dan penuh rasa hormat. Perempuan itu menjadi sandaran sekaligus cerminan hidupnya. Dari senyumnya, ia belajar arti ketenangan. Dari kesabarannya, ia belajar makna kekuatan.

Kini, mereka juga telah dikaruniai seorang anak perempuan yang masih bayi. Setiap kali menatap wajah kecil itu, hatinya dipenuhi harapan. Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa kelak hidup anaknya harus lebih baik dan lebih beruntung dalam segala hal. Ia ingin anaknya tumbuh dengan peluang yang lebih luas, tanpa harus menanggung kerasnya perjuangan yang pernah ia rasakan.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, ia selalu membayangkan potret bapaknya yang mulai menua. Dalam hatinya selalu terngiang pesan yang penuh makna:

“Bapak memang tidak bisa memberimu warisan, Nak. Tapi Bapak mewarisi doa yang tak pernah putus, dan sebuah nama yang pantas untuk kau jaga.”

Pesan itu kini ia teruskan dalam diam. Ia ingin kelak anaknya juga mengingat kata-kata yang sama. Doa yang sama. Semangat yang sama.

Baginya, hidup bukan tentang seberapa cepat seseorang sampai di tujuan. Hidup adalah tentang bagaimana tetap berjalan di jalan yang benar. Tentang bagaimana memberi arti bagi sesama.

Ia hanyalah anak buruh, tetapi ia menjadi bukti bahwa asal-usul bukan batas. Ketulusan adalah kekuatan. Di tengah dunia birokrasi yang terus berubah, ia tetap berdiri tegak. Ia bekerja dengan hati, menjaga kejujuran dan membuktikan bahwa pengabdian sejati tidak membutuhkan nama besar, melainkan nama keluarga yang harus diperjuangkan untuk menjadi besar.

"Di bawah langit Kamulyan, tempat ia bertumbuh, berlari kecil tanpa alas kaki, kini ia berdiri sebagai saksi bahwa setiap perilaku diri sendiri dan doa dari kedua orang tua bisa menjelma menjadi jalan panjang menuju arti hidup yang sejati".

 

What's Your Reaction?

like
2
dislike
0
love
2
funny
0
angry
0
sad
1
wow
2