THE KING MINAKJINGGA
Bukan sejarah, ini hanya cerita fiksi, karena sejarah ditulis dari, oleh dan untuk Penguasa. Jika ada nama tokoh yang sama itu hanyalah direkayasa saja.

THE KING MINAKJINGGA
Diceritakan kembali oleh: Mbah Atmo Kulonkali
Raja gagah nan rupawan dari kerajaan kecil, Blambangan, dibawah kuasa Majapahit. Selain tampan, Bre Wirabhumi memiliki kesaktian yang mumpuni.
Majapahit sebagai pemerintah pusat ketika itu bukannya abai terhadap Wirabhumi. Bahkan Dyah Ayu Kecana Wungu, wanita pewaris yang sah sebagai maharaja Majapahit nampak resah. Bukan saja karena melihat kesaktian Bhre Wirabhumi, tapi sebagai seorang wanita yang melihat ketampanan Bhre Wirabumi, dengan segala kharismanya telah menawan hatinya. Kencana Wungu bahkan mau berbagi kekuasaan dengan Wirabhumi jika mau manikahinya. Tapi Bhre Wirabhumi bukan orang yang haus kuasa, dia menolak semua tawaran dari sang Dyah.
Tidak ada jalan lain bagi Kencana Wungu, kecuali menyingkirkan sang raja Blambangan itu yang dipandang sebagai raja kecil yang melecehkan tahtanya. Maka diadulah Bhre Wirabhumi dengan Kebo Marcuwet. Kencana Wungu tahu bahwa Kebo Marcuwet memendam napsu berkuasa yang menggelora. Kebo Marcuwet memiliki kesaktian yang sulit ditandingi. Diatas kertas Kebo Marcuwet akan dengan mudah mengalahkan Bhre Wirabumi. Setidaknya begitulah harapan Kencana Wungu. Labih dari itu dengan kemenangan Kebo Marcuwet setidaknya Kecana Wungu dapat memberikan kerajaan Blambangan sebagai hadiah untuk Kebo Marcuwet, sebagai pengarem-arem agar tidak melakukan pemberontakan terhadap tahtanya.
Diluar dugaan. Kebo Marcuwet dapat dibinasakan oleh Bhre Wirabumi.
Tapi bukan perkara mudah membunuh Kebo Marcuwet, Bhre Wirabumi bahkan kehilangan ketampanannya serta suaranya yang penuh wibawa sebelumnya. Jurus-jurus Kebo Marcuwet sulit dibendung, menghantam muka dan leher Bhre Wirabumi, menghancurkan tulang muka serta merusak pita suaranya. Pesona fisiknya sirna sudah, namun senjata Gada Wesikuning masih menjadi piandel yang dapat diandalkan mendukung kesaktian Wirabhumi.
Dyah Ayu Kencana Wungu semakin galau. Karena Kini Bhre Wirabhumi yang beralih nama menjadi MinakJingga setelah kehilangan ketampanannya bukannya pudar pengaruhnya, sebaliknya meski menjadi raja buruk rupa namun pamornya semakin moncer gegara mampu membinasakan Kebo Marcuwet. Mengalahkan Kebo Marcuwet merupakan capaian yang prestisius bagi semua tokoh kala itu.
.
Adalah seorang pemuda gagah rupawan. Damar Wulan. Sebagai pekathik, pengurus kuda, adalah bukan pekerjaan yang mulia ketika itu. Pengurus kuda tunggangan sang Patih Lohgender sekalipun, Damar Wulan, tetaplah sebagai kelas pekerja kasar. Namun ketampanannya membuat mabuk kepayang bagi wanita yang memandangnya. Demikian juga sang Dyah Ayu, yang berkehendak menjadikan pekathik sebagai suaminya. Gila..! Bukan, itu biasa saja dalam kisah asmara.
Maha Patih Lohgender memahami semua itu. Demi menjaga kehormatan kerajaan maka sang Patih harus mencari intrik politik untuk mengangkat kasta sang pekathik.
"Damar Wulan harus menjadi pahlawan, baru bisa dipersuami oleh Sang Dyah Ayu. Untuk mengangkat kasta Damar Wulan agar layak menjadi suami Dyah Ayu maka tidak ada jalan lain kecuali harus mengirim Damar Wulan untuk membunuh Adipati Blambangan Bhre Wirabhumi alias Minakjingga". Begitulah kira kira nasehat sang Patih kapada Dyah Ayu Kencana Wungu. Dyah Ayu menyetujuinya.
Namun dibalik itu sebenarnya Patih Lohgender menghendaki kematian Damar Wulan. Selain Damar Wulan berada dalam kasta yang sangat nista, namun yang lebih penting bagi patih Lohgender adalah karena sang patih punya 2 anak lelaki yang diharapkan mendapat kemuliaan hidup dengan mewarisi tahta sang Dyah Ayu. Bukannya tahta malah jatuh kepada Damar Wulan. Kedua anak sang patih, Layang Seto dan Layang Gumitir adalah pemuda biasa yang tidak menonjol dari semua sisi. Keistimewaannya hanya karena dia adalah pemuda berkasta tertinggi ketika itu.
Dikirimlah Damar Wulan untuk membinasakan Minakjingga yang sakti mahambara. Damar Wulan melangkah nekat. Hadiah besar berupa kemuliaan hidup mengubur semua rasa takutnya. Sempat terlintas dalam nalar budinya, bahwa dirinya seorang pekathik, yang tentu saja bukanlah lawan sebanding Minakjingga. Ini masalah tanding ilmu kanuragan, bukan tanding ilmu memelihara kuda. Tetapi Damar Wulan punya rencana. Dan rencana itu kunci kemuliaan Damar Wulan kelak dikemudian hari.
Bhre Wirabumi yang kini bukan yang dulu lagi, Minakjingga adalah julukan yang selalu disandangnya kini. Minakjingga yang kini telah buruk rupa. Walaupun kondang kawentar sebagai penguasa digdaya namun dengan wajah dan suara yang sengau dan parau membuatnya kehilangan pesona. Bahkan penulispun kini telah bosan mendengar ocehannya, untuk itu mari kita bantu Damar Wulan untuk menyudahi Minakjingga sang raja dari Blambangan sekarang juga. TAMAT. (mo)
What's Your Reaction?






