ATAP GENTENG
ATAP GENTENG
Kebijakan penyeragaman rumah, termasuk kewajiban penggunaan atap genteng, adalah contoh pendekatan administratif yang terlihat rapi di atas kertas tetapi bermasalah di lapangan. Atap genteng kerap diposisikan sebagai simbol rumah “layak”, sementara material lain dianggap menyimpang atau tidak pantas. Cara pandang ini keliru sejak titik awal, karena menempatkan selera visual dan seragam kebijakan di atas logika iklim, fungsi bangunan, dan pengalaman empirik masyarakat.
Di wilayah dengan curah hujan dan kelembapan tinggi, genteng tanah liat menyimpan persoalan serius. Material ini bersifat menyerap air dan menahan kelembapan. Dalam kondisi hujan panjang, genteng menjadi berat dan lama kering. Lingkungan di bawah atap pun terus lembap meskipun cuaca telah cerah. Dampaknya bukan sekadar soal estetika lumut, tetapi percepatan kerusakan bangunan secara struktural, terutama pada rangka atap kayu yang sangat sensitif terhadap kelembapan.
Namun anehnya, justru dalam konteks inilah atap seng sering disingkirkan. Seng dilabeli panas, bising, dan tidak layak, tanpa melihat karakter materialnya secara utuh. Padahal seng tidak menyerap air, tidak menyimpan kelembapan, dan cepat kering setelah hujan. Air tidak pernah “tinggal” di material. Dalam iklim basah, sifat ini bukan kekurangan, melainkan keunggulan mendasar.
Lebih jauh, kombinasi atap seng dan rangka kayu justru memperlihatkan manfaat yang sering diabaikan oleh perumus kebijakan. Pada siang hari yang panas, ruang di bawah seng mengalami peningkatan suhu dan bekerja sebagai proses pengeringan alami. Pengalaman empirik masyarakat di sekitar lereng Dieng menunjukkan alasan ini menjadi pertimbangan nyata. Banyak warga memilih seng karena rangka kayu terbukti lebih awet: kayu tetap kering, tidak terus-menerus lembap, dan tidak cepat lapuk. Sebaliknya, penggunaan genteng di iklim lembap sering membuat rangka kayu lebih cepat rusak karena kelembapan yang terperangkap dalam waktu lama. Fakta ini berulang di lapangan, tetapi jarang diakui dalam kebijakan resmi.
Argumen bahwa seng panas dan bising sering dibesar-besarkan tanpa konteks. Di daerah pegunungan dengan suhu relatif sejuk, persoalan panas tidak dominan. Dengan ventilasi, rongga udara, dan plafon sederhana, dampak kebisingan dan panas dapat dikendalikan. Masalahnya bukan pada material, melainkan pada desain yang asal-asalan.
Karena itu, penyeragaman atap genteng patut dipertimbangkan kembali. Kebijakan semacam ini bukan hanya tidak sensitif terhadap situasi iklim, tetapi juga mengabaikan pengetahuan praktis masyarakat. Rumah yang layak bukan rumah yang seragam, melainkan rumah yang jujur pada alam dan masuk akal secara teknis.
What's Your Reaction?