MENJAMURNYA PKL DAN ILUSI BERGERAKNYA PEREKONOMIAN WONOSOBO
MENJAMURNYA PKL DAN ILUSI BERGERAKNYA PEREKONOMIAN WONOSOBO
Oleh: SATRIYATMO
Menjamurnya pedagang kaki lima (PKL) di Wonosobo sering kali ditafsirkan sebagai pertanda ekonomi rakyat yang bergerak. Ruang publik yang dipenuhi lapak dianggap bukti bahwa aktivitas ekonomi hidup dan konsumsi berjalan. Namun jika dibaca dengan kacamata ekonomi yang lebih jernih, fenomena ini justru menunjukkan gejala memburuknya kondisi perekonomian. Secara sederhana, jumlah penjual meningkat tajam, sementara daya beli masyarakat relatif tetap, bahkan cenderung menurun.
Dalam hukum dasar ekonomi, ketika penawaran meningkat sementara permintaan stagnan, yang terjadi bukanlah kesejahteraan, melainkan persaingan yang makin ketat dan penurunan omzet. Inilah yang kini dirasakan di Wonosobo. Bertambahnya PKL bukan berarti uang yang beredar semakin besar, melainkan uang yang sama harus dibagi ke lebih banyak pelaku usaha. Akibatnya, hampir semua pihak merasakan tekanan.
Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh PKL, tetapi juga oleh pedagang warung yang sudah lama berusaha secara menetap dan legal. Di Jalan Diponegoro, misalnya, sebuah warung sop ayam yang sebelumnya mampu menghabiskan hingga 10 ekor ayam per hari, kini hanya mampu menjual sekitar 5 ekor. Penurunan omzet ini bukan karena kualitas menurun, melainkan karena konsumen yang sama kini memiliki lebih banyak pilihan, sementara kemampuan belanja tidak bertambah.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa maraknya PKL bukanlah tanda ekonomi yang tumbuh sehat, melainkan cerminan ekonomi yang tertekan. Ketika lapangan kerja formal semakin sempit dan pendapatan masyarakat tidak meningkat signifikan, banyak orang terdorong masuk ke sektor informal. Di saat yang sama, daya beli tidak cukup kuat untuk menopang ledakan jumlah penjual.
Kondisi ini semakin kompleks di kawasan sekitar alun-alun Wonosobo, di mana PKL kerap berhadapan dengan Satpol PP karena melanggar peraturan daerah dan ketertiban umum. Penertiban berulang terjadi, namun akar masalah tidak pernah benar-benar selesai. PKL kembali bermunculan karena kebutuhan hidup tidak bisa ditunda, sementara alternatif pekerjaan yang layak tidak tersedia.
Ironisnya, situasi ini sering dinarasikan sebagai semangat kewirausahaan. Padahal, banyak PKL dan pedagang kecil sesungguhnya sedang berjuang mempertahankan hidup di tengah ekonomi yang menurun. Persaingan menjadi tidak sehat, margin keuntungan menipis, dan ketidakpastian semakin besar—baik bagi PKL maupun pedagang warung.
Menjamurnya PKL di Wonosobo seharusnya dibaca sebagai alarm ekonomi. Ia menandakan bahwa penawaran tenaga kerja dan usaha kecil melonjak, sementara permintaan dan daya beli tidak mengikuti. Selama kondisi ini dibiarkan, yang terjadi bukanlah kemajuan, melainkan saling menekan di antara sesama pelaku ekonomi kecil. Dalam konteks ini, PKL bukan penyebab utama masalah, melainkan gejala nyata dari perekonomian yang sedang tidak baik-baik saja
What's Your Reaction?