Memperbincangkan Gen Z, Punggawa Baru Pengelola Pemerintahan

Memperbincangkan Gen Z, Punggawa Baru Pengelola Pemerintahan

oleh : Yazilatun Nadhiyah

Penggunaan kata Generasi Z atau Gen-Z akhir-akhir ini sering digunakan. Melalui pariwara di televisi kita berulang kali mendengar istilah Gen-Z digunakan, apalagi melalui sosial media dan internet Gen-Z tak henti-hentinya didenggungkan. Segala bidang mulai dari perdagangan, kesehatan, perfilman, teknologi, industri kreatif bahkan sektor pemerintahan yang identik kuno dan kaku juga turut serta menggunakan istilah Gen-Z dalam banyak program dan kegiatannya.

Meskipun terkesan terlalu banyak digunakan, hingga sampai taraf menjemukan istilah Gen-Z ini akan terus kita dengar hingga beberapa dekade kedepan. Apalagi dalam masa-masa Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah, kita akan semakin sering mendengarkan penggunaan kata-kata Gen-Z. Para calon Legislatif, Bupati, Walikota, Gubernur hingga Presiden akan berlombalomba menyampaikan gagasan tentang generasi ini. Hal ini tidak lain adalah karena suara Gen-Z merupakan salah faktor penentu kemenangan dalam Pemilu ataupun Pilkada. Menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU), sekitar 40 persen pemilih atau sekitar 46 jutaan orang yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) adalah Gen Z yang berusia kurang dari 27 tahun.

Jika sebagian besar jumlah penduduk di Indonesia adalah Gen-Z, berbeda dengan jumlah penduduk di Indonesia yang berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Berdasarkan siaran pers yang dirilis oleh Badan Kepegawaian Negara pada tanggal 31 Desember 2024 dari distribusi umur, jumlah PNS didominasi kelompok usia 41 – 60 tahun dengan angka mencapai 2.896.281 atau 69,24% dan dari kelompok usia 18 – 40 tahun berjumlah 1.288.682 atau 30.76%. Hal ini menunjukkan bahwa untuk saat ini pengambil keputusan di pemerintahan masih dipegang oleh mereka yang berasal dari generasi X. Namun bukan berarti Gen-Z tidak mengambil peran penting dalam pemerintahan, hanya tinggal menunggu waktu saja Gen-Z akan segera mengambil alih peran generasi X dan milenial yang ada di pemerintahan saat ini.

Diskusi dan penelitian yang dibangun saat ini bukanlah tentang benar atau tidaknya para Gen-Z ini akan mengambil peran, karena secara alami waktu akan mengeliminasi peran generasi X. Namun yang jauh menjadi lebih penting dan harus dikritisi banyak pihak saat ini adalah seberapa besar generasi Z berkualitas yang mau ikut serta bergabung mengelola pemerintahan? Gen-Z sudah pasti akan mengambil alih peran para pembuat kebijakan, oleh karena itu sudah menjadi keharusan kepada Gen-Z putra-putri terbaik bangsalah pemerintahan ini harus diwariskan.

Dian Marta Indiarti dari BRIN dalam penelitiannya pada tahun 2021 menyebut Gen-Z sebagai generasi yang menjadikan teknologi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Gen-Z memiliki banyak keahlian, serba bisa, ekspresif dan eksploratif, memiliki kepercayaan diri tinggi, lebih terbuka terhadap berbagai akses informasi yang bersifat lintas batas, cenderung lebih permisif terhadap keanekaragaman, kritis dan lebih cepat serta praktis dalam menyelesaikan permasalahan. Karakteristik dan potensi yang dimiliki generasi ini merupakan bonus dan modal berharga dalam membangun tata kelola pemerintahan yang lebih baik kedepan.

Kemampuan dan segala karakteristik yang gemilang dari gen-Z akan menjadi sia-sia apabila ketika sudah duduk di kursi pemerintahan tidak mampu memberikan kontribusi yang positif. Yang terburuk adalah tipikal yang hanya mampu mengkritisi, berdiri paling depan untuk menyuarakan keburukan generasi terdahulunya namun minim kinerja. Teknologi selain memang memiliki banyak manfaat positif, harus disadari juga merupakan candu yang berbahaya. Dalam penelitian Handout menyebutkan penduduk Indonesia menghabiskan waktu untuk mengakses internet selama 8 jam 51 menit tiap harinya dan terbesar di antaranya adalah digunakan untuk bermedia sosial dan menonton video. Presiden Indonesia yang pertama Ir. Soekarno pernah menyampaikan “Berikan Aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan Aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Menilik kondisi saat ini, tidak akan ada dunia bahkan meja yang terguncang jika pemudanya terlalu sibuk menundukkan kepala di atas layar “smartphone”, yang lebih celakanya lagi diakses dengan internet yang dibiayai APBN/APBD.

Mengisi kemerdekaan Indonesia yang hampir berumur 80 tahun hanya dengan mengeluhkan generasi sebelumnya yang korup, tidak adil, tidak kompeten dan lain sebagainya tidak akan memperbaiki keadaan. Indonesia saat ini tidak akan ada apabila generasi baby boom tidak mengorbankan nyawa untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak dapat dinikmati para milenial dan Gen Z tanpa generasi X yang berjuang di era reformasi. Kolaborasi dan kerja sama dari satu generasi ke generasi yang lainya adalah kunci keberhasilan yang akan membawa Indonesia benar-benar menjadi negara maju kedepan.

ASN generasi X yang saat ini mengambil peran sebagai pembuat keputusan harus memastikan keputusan yang diambil mewariskan tata kelola pemerintahan yang lebih baik sedangkan ASN Gen-Z harus mampu mengoptimalkan kemampuan dan potensi yang dimiliki untuk mengelola pemerintahan yang bermartabat. Kritik, koreksi dan perbaikan tata kelola pemerintahan akan terus berlangsung dari generasi ke generasi, ASN Gen-Z saat inipun tidak perlu merasa menjadi terlalu hebat karena ASN dari generasi mendatang juga akan segera datang dengan kemampuan yang jauh lebih unggul. Oleh karenanya integritas dan karakter menjadi penyeimbang dari perubahan yang berjalan begitu cepat. (YAZ)

What's Your Reaction?

like
3
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0